Ketidaktampakan Orangutan (Orangutan In/visibilities): pameran digital

Orangutan yang kini berstatus terancam punah barangkali adalah hewan terpenting dan tertampak di dunia. Mereka menjadi simbol kepunahan internasional yang memiliki pengaruh kuat, sebab hanya dapat ditemukan di Pulau Borneo dan Sumatra. Sayangnya, hewan kharismatik ini menjadi peringatan yang tragis akan skala dan kecepatan hilangnya keanekaragaman hayati di planet bumi.

Orangutan terkenal khususnya di kawasan Utara dunia, sebut saja di Eropa dan Amerika Utara, di mana orangutan menjadi bagian esensial dari gambaran besar yang dikelilingi gagasan-gagasan tentang spesies yang terancam punah, hutan hujan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan etika konsumsi. Contoh sederhana adalah bagaimana tergugahnya kesadaran konsumen Barat ketika melihat gambar bayi-bayi orangutan yang kehilangan induknya. Gambar-gambar tersebut menyadarkan mereka akan risiko kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh industri minyak kelapa sawit — umumnya digunakan sebagai bahan baku dalam  pengolahan makanan dan produk-produk rumah tangga. Tak hanya saat melihat gambar bayi orangutan yatim piatu, rekaman-rekaman menyedihkan orangutan yang menjadi korban pembabatan atau kebakaran hutan juga menarik perhatian internasional, terutama saat dihubungkan dengan perubahan hutan hujan Borneo dan Sumatra yang begitu cepat dan ekstensif dalam beberapa dekade terakhir.

Read more

Meskipun berpengaruh, rupa-rupa orangutan bernasib malang tersebut hanya mengungkapkan petikan kecil dari cerita yang jauh lebih besar dan kompleks tentang kepunahan orangutan, hubungan manusia dan orangutan, serta konservasi orangutan, di dalamnya termasuk pula jaringan luas pembuat kebijakan, ilmuwan, LSM, dan pihak lain yang telah berjibaku  menyelamatkan orangutan. Dalam pameran ini, kami menyoroti beberapa bagian lain yang kurang terekspos dari kisah tentang orangutan, utamanya struktur dan proses yang melibatkan manusia dan non-manusia yang sering kali tak kasat mata, yang membentuk konservasi orangutan. Pertanyaan pokok yang kami sodorkan ialah: Seperti apa konservasi orangutan apabila tidak menempatkan orangutan sebagai sentral? Bagaimana menelusuri ketidaktampakan dapat membawa kita membayangkan kembali atau melakukan reimajinasi atas hubungan manusia dan orangutan, serta konservasi itu sendiri?

Pameran ini dibagi ke dalam beberapa galeri dengan empat tema: Protokol, Mediasi dan Representasi, Keahlian dan Tenaga Kerja, serta Kontestasi dan Kolaborasi. Protokol menjelaskan tentang penelitian, pembuatan kebijakan, dan proses birokrasi yang menghasilkan pengetahuan ilmiah tentang orangutan dan strategi pelestariannya, seraya mengatur bagaimana konservasi dilakukan di lapangan. Mediasi dan Representasi mengeksplorasi bagaimana representasi orangutan, kepunahan dan konservasi diterjemahkan, disebarkan atau bahkan diabaikan dalam situasi yang berbeda-beda. Keahlian dan Tenaga Kerja mengungkapkan berbagai jenis keterampilan, pengetahuan, dan usaha yang dicurahkan manusia dalam kegiatan konservasi orangutan — terutama bagi mereka yang tidak selalu dihargai atau diakui. Terakhir, Kolaborasi dan Kontestasi melihat jalinan hubungan manusia dan non-manusia, aliansi, konflik, dan ketegangan di mana konservasi orangutan berperan di dalamnya.

Masing-masing tema ini menyampaikan kisah visual tentang pekerjaan, relasi, emosi, ketegangan, dan aliansi yang membuat konservasi orangutan berhasil — atau gagal — di lapangan. Beberapa kisah mengisyaratkan hal yang tidak dapat atau tidak boleh diungkapkan; kisah lainnya secara masak-masak disampaikan untuk menyoroti dan memberikan penghargaan kepada pelaku yang tidak tampak. Dengan menggabungkan pilihan gambar dan artefak ini, kami berharap dapat memberikan gambaran yang lebih bernuansa tentang konservasi orangutan. Nuansa yang tak hanya menyoroti dimensi-dimensi yang jamak terlihat, tetapi juga tentang politik, praktik, dan proses yang menentukan apa-apa yang terekspos dan tak terekspos dalam kisah orangutan.

Galleries

Protokol

Mediasi dan Representasi

Keahlian dan Tenaga Kerja

Kolaborasi dan Kontestasi

Kredit dan Ucapan Terima Kasih

Pameran ini dikurasi oleh Liana Chua, Hannah Fair, Viola Schreer, Anna Stępień, Paul Hasan Thung, dengan kontribusi lebih lanjut dari Marc Ancrenaz (HUTAN), Jeremy Dwyer-Lindgren (Woodland Park Zoo), Helen Morrogh-Bernard dan Bernat Ripoll Capilla (Borneo Nature Foundation), International Animal Rescue Indonesia, Yayasan Orangutan Sumatera Lestari – Pusat Informasi Orangutan (Sumatra, Indonesia), Julie Sherman (Wildlife Futures) dan Yayasan Palung (Kalimantan Barat, Indonesia). Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Rut Dini Prasti H. dan disunting oleh Lestari Nugraheni.

Desain pameran ini dikerjakan oleh Jam Design Associates dan Platform Twenty Limited.

Pameran ini menerima dana dari European Research Council di bawah program penelitian dan inovasi European Union’s Horizon 2020 berdasarkan perjanjian hibah No. 758494. Kami berterima kasih kepada Arcus Foundation dan Brunel University London yang telah mendanai sebagian dari penelitian. Selanjutnya, kami mengucapkan terima kasih kepada Candie Furber atas masukan dan dukungan administratif yang luar biasa. Kepada Jade Warrington dan Dave Jones, terima kasih banyak atas kesabaran dan dukungannya terkait desain pameran. Terima kasih pula untuk Bernat Ripoll Capilla, Helen Morrogh-Bernard, Erik Meijaard, Edi Rahman, Heribertus Suciadi, Orangutan Foundation Inggris, Fransisca Ariantiningsih (Direktur YOSL-OIC), dan Tengku Jeni Adawiyah (Manajer Program Unit Respon Konflik Manusia-Orangutan, YOSL-OIC).

Terima kasih kepada RISTEK dan mitra penelitian kami,  Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, Universitas Sumatera Utara dan Universitas Indonesia, atas bantuan dan dukungannya.

e-guestbook comments

Read more guest comments

Posts not found

Write in our guestbook
Site by Platform Twenty Ltd.